• sastra
  • nerjemah
  • diari
  • link

Berbagi Mimpi

Tempat Mimpi yang Muluk-muluk Dikonservasi

  • Home
  • Contact
  • Log in

Daisy Miller: Hmm... Ngepop apa Msikologis apa Ngrealis Saja apa Ngontemplatif?

August 27th, 2008

Akhirnya, setelah lama nggak baca karya-karya sastra Inggris klasik, saya ketemu lagi sama Daisy Miller, yang ditulis sama Henry James. Yah, agendanya masih tetap, dalam rangka sedikit menceburi (nggak sampai menyalami sih, lha wong renang saja ndak bisa, hehehe) sastra Amerika.

Oke, kita awali dengan sinopsis saja deh: Alkisah, seorang pemuda bernama Winterbourne sedang jalan-jalan menemani budenya Mrs. Costello rekreasi ke Switzerland. Oh ya, si pemuda ini asal Amerika yang "belajar" (masih meragukan sih kata "belajar" ini, soalnya dari novelnya sendiri ditulis dengan tanda petik) di Jenewa. Di tempat rekreasi itu dia bertemu seorang gadis Amerika yang menawan hatinya, bernama Daisy Miller. Si gadis ini sangat ya... gaul lah sama orang-orang, sangat sociable, plus audacious (seneng ngomong), plus nyantai, suka gaul sama cowok. Budenya curiga dia ini jenis gadis 'flirt' (mungkin semacam cewek penggoda, atau .. hmm.. mungkin cewek yang suka main-main sama [hatinya] cowok). Sekali mereka menyempatkan jalan-jalan berdua, sebelum akhirnya mereka berpisah karena Daisy Miller bersama ibu, adik, dan 'courir'nya berangkat ke Roma sementara si Winterbourne pulang dulu ke Jenewa. Tapi kemudian Winterbourne ke Roma (sesuai janjinya kepada Daisy). Di Roma, Daisy agak ngambek sama dia karena nggak datang-datang. Sementara itu, Daisy sudah akrab sama seorang pria Italia (hmmm... menurut cerita pria ini ganteng, persis seperti kata Andrea Hirata, nggak ada orang nggak tampan di Italia itu :D) bernama Giovanelli. Mereka berdua suka jalan-jalan. Di sini, sikap Winterbourne jadi agak kaku, serba salah karena di satu sisi dia tidak suka Daisy nongkrong sama si Giovanelli, tapi dia juga nggak pingin memihak orang-orang tua yang nggak suka sama Daisy yang demen runtang-runtung sama cowok Italia itu. Kalau sama Daisy, tanpa sadar si Winterbourne ini suka melarang-larang ini-itu, dan Daisy yang model cewek carefree ini tidak mau dilarang-larang, karena dia menganggap dirinya 'bukan anak lima tahun lagi', yang mana sudah bisa menentukan sikapnya sendiri. Sementara itu, si Winterbourne juga panas kupingnya saat mendengar banyak orang menggunjingkan Daisy dan mensyu'udoninya. Kata orang Daisy itu cewek inilah, cewek itulah. Tapi, sikap dia yang nglarang-nglarang Daisy itu malah bikin Daisy menganggapnya terlalu kaku, dan nggak enak diajak gaul. Ujung-ujungnya, Daisy tambah getol nongkrong sama Giovanelli. Si Winterbourne yang terus-terusan disengaki Daisy malah menjauh sementara waktu, apalagi waktu Daisy bilang dia sudah tunangan sama si cowok Itali. Suatu malam, si Winterbourne jalan-jalan sendiri ke Colosseum. Di situ dia ketemu Daisy sama Giovanelli ngobrol berdua, malam-malam, jam 12-an. Sekali lagi, Winterbourne menyuruh Daisy pulang karena sudah malam, dan tempat itu adalah sarang malaria. Dia sebel juga sama si Giovanelli yang sebenarnya tahu kalau itu sarang malaria tapi tetap saja ngajak Daisy. Akhirnya, mereka pun semua pulang. Beberapa hari kemudian, Daisy demam berat, dan ... bisa ditebak ... Daisy wafat sambil meninggalkan pesan buat Winterbourne lewat ibunya. Pesan itu menyatakan bahwa sebenarnya dia tidak bertunangan, dan dia sungguh-sungguh ingin ibunya menyampaikan pesan itu kepada Winterbourne. Demikianlah, Winterbourne pun menanggung lagi kesepiannya, kembali lagi ke Jenewa, di mana dia "belajar".

Begitulah. Sekilas plotnya sangat terasa pop. Atau bahkan agak-agak teenlit karena kisahnya berkutat tentang cinta, dua orang yang di luar negeri, cinta mendalam, dan berakhir kematian. Tapi, saya tekankan kepada kita semua :D: sebenarnya tema seperti apapun layak jadi sastra, YANG PENTING PENGGARAPANNYA. Ya, namanya hidup, paling-paling kisahnya berkutat antara cinta, kematian, politik, intrik, kekejaman, dll. Dan tema seperti itu memang diulang-ulang dalam sejarah manusia (kayaknya saya pernah ngomong seperti ini dalam resensi saya atas novelnya mas Titon Rahmawan Turquoise :D).

Ya, sekali lagi penggarapannya. Lihat saja novelnya Goethe Penderitaan Pemuda Werther (yang mengisahkan pemuda yang jatuh cinta sekonyong kother), atau lihat saja novel besar Indonesia semacam Edensor (yang petualangannya digarismerahi oleh pencarian akan seorang cinta masa kecil), atau tilik deh Siti Nurbaya (yang kisah utamanya tentang kisah cinta yang dilarang orang tua dan diputus dengan kawin paksa tak bahagia), atau novel India Devdas (yang juga cinta terlarang dan kawin paksa yang membahagiakan si perempuan tapi menyengsarakan si cowok yang ditinggalkan), atau novel Romeo and Juliet (kisah cinta antar anak musuh bebuyutan). Yah, kisah cinta!!! Dan kisah cinta bukan sesuatu yang tabu!!!

TAPI ...

SEKALI LAGI PERLU SAYA SAMPAIKAN BAGAIMANA KISAH CINTA ITU DIGARAP, BAGAIMANA TEMA-TEMA YAGN SUDAH BANYAK DIDENGAR ORANG ITU DIGARAP.

Dalam kasusnya Henry James kali ini, kita akan dengan mudahnya melihat bagaimana tema cinta itu digunakan James untuk menghantarkan keinginannya untuk menggambarkan:

1) bagaimana Amerika pada masa itu merupakan sebuah tempat yang bergerak sangat cepat dan berubah pesat. Sebagai seorang pemuda yang meninggalkan negaranya untuk hidup di negeri orang, Winterbourne benar-benar sudah tidak tahu seperti apa anak-anak Amerika pada masa itu. Dia masih mengharapkan bertemu seorang gadis baik-baik seperti yang sering dia temui di Eropa. Dia terkaget-kaget, tapi tak kuasa menahan keterpesonaannya, melihat sikap Daisy Miller yang begitu carefree, begitu nyante, dan terasa seolah memain-mainkan perasaannya. Dia tak sadar kebudayaan Amerika sudah berkembang sejauh itu.

2) bagaimana pergolakan jiwa seorang pemuda yang sudah menjauhi Amerika dan mendapat didikan Eropa ketika bertemu dengan seorang gadis Amerika yang bebas (dalam ukuran jaman itu... bukan kayak sekarang lah :D). Di sini, sikap Winterbourne terombang-ambing, di satu sisi dia dipaksa terus menerus mendengar omongan budenya atau siapa saja dari golongan tua (yang mungkin bisa dihubungkan dengan Eropa, yang merupakan kebudayaan tua, yang lebih kolot), tapi di lain pihak dia mulai menganggap sikap Daisy yang seperti itu biasa saja. Seolah-olah, bisa dibilang, dia memiliki jiwa Amerika yang benar-benar ingin mencari standar moralnya sendiri, tapi didikan Eropa memaksanya untuk menganggap sikap Daisy yang seperti itu tidak pantes.

3) atau lebih tepatnya melambangkan sikap Amerika yang lebih memilih kebebasan untuk melakukan apa saja yang dirasanya menyenangkan (hal ini terlambangkan oleh sikap Daisy yang lebih seneng sama Giovanelli karena dia tidak suka melarangnya dan membuatnya bisa mengeksplorasi segala hal), meskipun hal-hal itu ada fatalnya juga (terlambangkan oleh kematian Daisy).

Ya, kira-kira begitulah menurut saya. Sementara begitu. Resensi ini akan berkembang seiring baca pengantarnya novel ini nanti. Well, saya nggak pingin lah belum apa-apa diracuni gagasan abstrak penulisnya, hehehe... Tapi lihat dulu lah, besok akan saya ocehkan ini ke Prof. Adams, kira-kira dia bisa menerima ocehan seorang pemimpi nggak ya? :D

Posted in Sastra | Send feedback »

Mulai Masuk Masa Penghasil Klasik

August 26th, 2008

Uh, sampailah kita pada masa 50 tahun setelah proklamasi of independencenya Amerika. Di masa ini, kita akan dipertemukan dengan lima nama penulis yang saya yakin tak asing lagi di mata dan telinga kita sekalian. Hmm... masa ini ditengarai (kayaknya ini deh bahasa Indonesianya "ditengeri") dengan munculnya pemikir-pemikir bebas yang sangat tajam pandangan kritisnya terhadap keadaan sosial masa itu sambil tetap juga menunjukkan keterikatan yang kuat dengan alam, yang merupakan aset terbesar dan layak dipelajari di jaman itu.

Ops, sampai lupa, kali ini kita tetap berpegang pada What is American Literature?nya van Doren. Ya... namanya juga sedang merangkum buku, hehehe... Semua keterangan ini saya berhutang pada van Doren (semoga beliau mengikhlaskan hutang saya itu, karena saya nggak tahu harus membayar ke siapa ini :D).

Waktu itu, kepustakaan dijejali dengan pekerjaan, "deskripsi bentangan alam yang luas, dan tulisan-tulisan tentnag binatang dan tanaman khasnya. Catatan Amerika jaman dulu, dengan memoar para pria dan wanita tersohor. Komentar-komentar mengenai hukum, pemerintah, dan kepentingan publik...." Begitulah. Yang tampak mencolok, karena tidak memiliki minat yang sama dengan tren Amerika pada masa itu adalah orang-orang New England. Tiga jagoan yang mencolok di antara mereka adalah Emerson, Thoreau, dan Hawthorne.

Yang patut dibahas pertama (karena paling tua) adalah Emerson, yang merupakan seorang pemikir yang mengajak jamannya berpikir bebas, melepaskan diri dari kungkungan Ortodoksi Lama. Van Doren dengan sangat tegasnya menunjukkan pemikiran-pemikiran Emerson yang terwakili dengan sosok Man Thinking dalam bukunya The American Scholar. Kualitas seorang pemikir yang diajukan Emerson terasa erat sekali kemiripannya dengan sosok Leather-Stocking yang dikisahkan oleh Cooper. Dia menginginkan seorang manusia Amerika memiliki "semangat liar" (saya terjemahkan dari "animal spirit" sih hehehe).

Selanjutnya ada Thoreau, seseorang yang pastinya sangat kita kenal lewat baris kalimatnya yang "kesasar" ke film The Dead Poets' Society: "I went to the woods because I want to live deliberately" Yang merupakan fakta baru buat saya (sori ya... saya dulu kurang gaul sama sastra Amerika :D) adalah bahwasanya si Thoreau ini bener-bener pernah memutuskan tinggal di hutan. Deskripsi van Doren tentang Thoreau sungguh membawa imajinasi saya pada seorang sastrawan nyastra yang ngotot (berikut ini terjemahan liar saya): nggak mau mbayar pajak, nggak ikut pemilu, nggak ke gereja, (eits... kalau Anda para sastrawan sudah melakukannya, jangan puas dulu, jangan samakan dulu dengan Thoreau, karena dia masih punya sifat lain), nggak makan daging (nah!), nggak mabuk (bisa nggak?), tembako pun nggak ngerti gunanya (nah loe). Dia menentang segala yang dia anggap salah. Dia berguru pada alam, dan sekali lagi menggemakan sosok Leather-Stocking. Dia meyakini negara tidak benar, sehingga tidak mau membayar pajak dan patuh kepada mereka, hingga pernah mendekam di bui karenanya.

Nah, kalau nama yang ketiga ini saya yakin semua mahasiswa sastra Inggris kenal betul: Hawthorne. Dia tidak menuliskan ajaran-ajaran yang sifatnya definitif atau abstrak. Dia menyampaikan pandangannya lewat kisah-kisah (saya nggak sadar, setelah baca ulang, ternyata kalimat asli van Doren mirip ini :D), yang tentunya dengan harapan kita sendiri yang bisa menyarikan tilawahnya. Kisahnya yang paling mujarab, yakni The Scarlett Letter, menurut van Doren, benar-benar mewakili pemikirannya. Lagi-lagi, pembaca akan mendapatkan lecutan untuk membebaskan diri dari kungkungan norma-norma lama di sini. Dari sebuah buku lain, yang merupakan kumpulan esai para penulis India tentang sastra Amerika yang berjudul Studies in American Literature saya mendapatkan seorang penulis yang mengajukan argumen bahwa sastra Amerika dipenuhi dengan pencarian jati diri. Dan Hawthorne ini benar-benar bisa mewakilinya.

van Doren menggolongkan Hawthorne bersama dua penulis lain, yakni Melville dan Poe sebagai pemikir yang mengungkapkan pandangannya lewat cerita.

Melville, seorang petualang sejati keturunan Inggris dan Belanda, menyampaikan kisah yang sebenarnya tak jauh dari pengalamannya sendiri sebagai awak kapal penangkap paus yang berangkat dari New England. Dipadu dengan perhatiannya kepada agama, dia masukkan kisah paus Mocha Dick ke dalam bukunya, Moby Dick. Saya lihat sejumlah esai yang menghubung-hubungkan kisah Moby Dick ini dengan perlambangan keadilan dan ketidakjujuran, ada juga yang menjadikannya alegori kehidupan Amerika pada masanya. Yang pasti, memang banyak yang bisa dipetik dari karya Melville. Kalau saya simpulkan dari van Doren, Melville sendiri ingin mengalegorikan bagaimana Amerika yang penuh tenaga di masa itu mencoba melawan alam, seperti halnya Ahab yang ngotot ingin membunuh si paus Moby Dick, tapi tak kunjung berhasil.

Dan terakhir, tanpa banyak cingcong, van Doren menyinggung Edgar Allan Poe, seorang keturunan Inggris yang sekolah di Inggris. Meski hidupnya penuh dengar gejolak, karya sastra Poe terasa tenang, dan suram. Van Doren menyebutkan bahwa bagi Poe, apapun gejolak yang ada dalam kehidupan seorang penulis, dia harus tetap menggunakan akal sehatnya dalam berkarya, agar tujuan yang ingin dicapainya dengan tulisan itu benar-benar terwujud. Baginya, kecantikan (dalam karya sastra) harus disampaikan dengan kalkulasi yang matang, bukan karena kebetulan para pembaca bisa menemukannya. Oleh karena itulah, cerpen-cerpennya dia buat dengan perhitungan yang matang, setiap cerita hendaknya memberikan satu dampak kepada pembacanya, dan harus benar-benar mengKO pembaca. Begitulah Poe, sang penemu genre cerita detektif.

Demikianlah lima penulis yang menjadi tonggak karya-karya klasik Amerika.

Sementara rangkuman kita sudahi dulu....

Posted in Sastra | Send feedback »

Apa Hubungannya Literatur Amerika dengan Revolusi dsb?

August 25th, 2008

Oke, setelah menceritakan secuil tentang sastra (atau diterjemahkan literatur saja ya?:D) Amerika pada awal-awal masa kelahirannya, sekarang kita akan mengulas dikit tentang apa kaitan antara literatur Amerika ini dengan revolusi bangsa (yang saat itu masih baru) tersebut.

Sebentar, sepertinya di sini kita perlu sedikit menyela. Saya agak ragu-ragu menerjemahkan 'literature' menjadi sastra pada titik ini. Sebab, sebagaimana saya dan Anda semua ketahui (setiap kali saya mendengar orang ngomong 'sebagaimana kita ketahui', saya merasakan ada kesan sok tahu gitu loh, tapi mohon maaf kalau saya menggunakan itu, sungguh, nggak ada niat sok tahu di sini :D), kata 'literature' itu pada masa-masa yang lalu, dan pada masa-masa sekarang dalam sejumlah tulisan yang sangat terbatas, tidak hanya mengacu pada 'sastra' yang lebih menitikberatkan pada kebukanfaktaan saja. Kata 'literature' lebih mengacu ke segala bentuk karya tulis atau karya pemikiran yang dituangkan lewat tulisan. Jadi ya... hmmm... apa mulai sekarang kita pakai istilah 'kepustakaan' saja ya?

Oke deh, sekarang kata "literature" di tahap ini sementara akan saya terjemahkan menjadi 'kepustakaan'.

Oh, btw, kali ini saya tetap membahas karyanya Carl Van Doren What is American Literature loch.

Nah, kepustakaan punya hubungan yang cukup erat dengan revolusi di Amerika Serikat. Begini latar belakangnya, pada sekitar periode 1700-an itu, orang-orang koloni Inggris yang tinggal di Amerika mulai "disibukkan dengan urusan Amerika" dan semakin bisa mandiri dan tak lagi kemanthil ke Inggris. Bahkan, mereka "semakin hilang kesabaran menghadapi pemerintah di London yang di mata mereka tampak sebagai pemerintah yang kaku dan nggak bisa diajari". Setelah konflik-konflik awal dengan pemerintah pusat dalam hal "administrasi dan perpajakan," mereka pun bertekad untuk mengarahkan pemberontakan itu hingga mencapai kemerdekaan.

Di sinilah kepustakaan berperan, lewat tangan Thomas Paine, seorang terpelajar yang pada awalnya merupakan orang yang gagal di Inggris namun diajak oleh Benjamin Franklin untuk pindah ke Philadelphia dan menjadi penulis pamflet pengobar semangat yang sangat efektif. Dengan karyanya yang berjudul Common Sense, Paine menegaskan kembali pentingnya keterbebasan dari cengkeraman pemerintah Inggris, juga bahwasanya "koloni-koloni itu tidak pernah berhutang terlalu banyak kepada bangsa induk mereka, dan [pada saat itu] mereka tak punya sepeser pun hutang", dan "pemisahan diri merupakan kewajiban moral". Nah... siapa cobak nggak panas mendengar pamflet semacam itu? Saking pentingnya peran karya tulisan Paine ini, van Doren sampai bilang "to him, more than any other single man, must be credited the drift, if it was not a flood, of sentiment for the independence which rose to the Declaration in July 1776". Selanjutnya, masih dengan nada membakar semangat para pengharap kemerdekaan, Paine dalam rentetan karya pamfletnya yang dijuduli "American Crisis" kembali menegaskan bahwa (saya parafrasekan saja ya) konstitusi Amerika sangat besar artinya bagi kebebasan sebagaimana grammar yang sangat besar artinya bagi bahasa. Begitu deh.

Selanjutnya, masih dalam kaitannya dengan Revolusi Amerika, tibalah saat generasi Revolusi yang, menurut van Doren, sebagian besar dari para penulis generasi Revolusi ini hanya mengulang-ulang tema yang diusung oleh dua Thomas, yakni Paine dan Jefferson. Karya-karya mereka banyak berkutat soal masalah publik dan politik, pokoknya hal-hal yang sifatnya sangat kontekstual dengan jaman itu saja, dan otomatis tidak lagi penting untuk dibaca saat ini, kecuali oleh para sejarawan yang pingin menyeriusi ihwal jaman itu.

Setelah orang-orang terlalu tenggelam dalam kepustakaan yang banyak berurusan dengan fakta, hadirlah sosok yang bernama Washingon Irving yang menulis fiksi. Karya-karyanya, terutama dari serial Diedrich Knickerbocker, penuh warna namun tetap menunjukkan keanggunan. Dia juga meninggalkan karya-karya yang tetap dibaca orang semacam kisah Rip Van Winkle. Keceriaan dan kekocakan dalam karya-karyanya membuat orang Eropa maupun Amerika terpesona, karena sungguh berbeda dengan kepustakaan yang cenderung mengajak mengerutkan dahi pada masa itu.

"Kalau Irving humoris," begitu tulis van Doren saat mengawali bagian tentang penulis lain, "James Fenimore Cooper adalah penulis romantis." Dia membuat kisah-kisah epik yang sangat menggugah, mengangkat heroisme, mengusuk kritikan. Dia mengkritik bahwa dada "perubahan-perubahan yang membikin keajaiban menjadi lebih buruk." Dia menggebrak jamannya dengan hikayat Leather-Stocking, seorang tokoh yang disegani baik di kalangan orang Amerika keturunan Eropa maupun para penduduk asli Amerika. Ada sebuah kalimat van Doren yang mungkin bisa membantu memahami sifat karya Cooper: "Saat Cooper menuturkan kisah-kisahnya, Amerika seolah bersikap gagah namun welas asih (apa ya terjemahan kata 'gallant' yang enak untuk konteks ini? :D) kepada para Indian yang telah kalah dan mati, seperti halnya sikap seorang pemenang kepada musuh yang telah dia kalahkan, ketika si musuh tak lagi mengancam." Dengan kisah inilah, Cooper mengkritik tanpa memperdebatkan esensi dari seorang yang ideal, tapi dengan memberikan contoh sifat-sifat seorang yang wajib jadi panutan.

Sementara begitu dulu... Semoga saja saya nggak lupa dengan apa yang saya tulis ini. Hehehe...

Posted in Sastra | 3 feedbacks »

Awal Sastra Amerika

August 23rd, 2008

Nah, Borges kita sela sebentar, sekarang mari kita ngomong soal American Literature. Kali ini, di hadapan saya ada buku kecil "What Is American Literature?" karya Carl van Doren(tentu saja, saya pilih buku ini karena tipis, huahahahaha... tapi belakangan saya temukan dari ensiklopedi Britannica bahwa van Doren ini termasuk orang kuat penyusun sejarah sastra Amerika ).

Kita bahas deh mulai bab I. Bab ini menarasikan bagaimana awal kisah hidup sastra di Amerika. Oke, atas nama kejujuran akademis :D, saya bilang saja deh semua yang tertulis di bawah ini saya ambil dari bukunya van Doren itu.

Sastra Amerika ternyata merupakan satu-satunya sastra penting dunia yang lahir setelah penemuan mesin cetak. Ini yg unik. Kalau semua sastra penting dunia diawali sejak jaman oral, tradisi lisan, mulai dari trubadur, penutur cerita keliling, maupun pujangga istana, sastra Amerika tidak demikian halnya. Oopss, saya pikir di sini van Doren memaksudkan sastra Amerika sebagai sastra yang dibikin di Amerika dengan bahasa Inggris.

Pada awalnya, tulisan-tulisan Amerika adalah tulisan yang dibuat orang-orang untuk mengisahkan kehidupan mereka di dunia baru (ingat kan, kata Buku Pintar, Amerika "ditemukan" oleh Christopher Colombus pada tahun 1492?). Tulisan-tulisan awal itu biasanya berupa catatan harian kehidupan (ya... semacam blog tapi manual lah :D) yang dibuat dengan tujuan untuk dibaca orang-orang yang ada di Eropa. Tulisan-tulisan Amerika itu dinilai berdasarkan kadar kebagusan mereka menggambarkan Amerika, dan keindahan sastrawi sama sekali tidak dijadikan pertimbangan. Kata van Doren "nggak ada drama, nggak ada fiksi, hanya sedikit puisi dan itu pun nggak ada yang bagus, dan hanya jurnalisme yang baru bertunas (btw, ini saya terjemahkan dari 'beginnings of journalism' lho hehehe..)".

Kelak, orang-orang Amerika ini mulai menanamkan pandangan miring kepada Eropa. Mereka mulai menganggap Eropa sebagai kawasan yang terlalu sesak. Mereka menganggap orang-orang Eropa adalah orang yang "terkungkung" untuk mengikuti nilai-nilai budaya yang mereka warisi dari nenek moyang mereka, sementara para penghuni baru Amerika ini adalah individu yang bebas untuk menentukan nilai-nilai mereka sendiri. Pendeknya (ini simpulan van Doren yang sangat asyik menurut saya), orang Eropa adalah keturunan (dari nenek moyang mereka), tapi orang Amerika adalah leluhur (dari anak cucu mereka) :D.

Maka, kali ini tujuan tulisan pun lebih untuk menarik tenaga dan modal dari Eropa ke Amerika. Mereka ini mengangankan pegunungan dan pedesaan Amerika sebagai bakal pusat kemajuan dan ibukota di masa yang akan datang.

Hanya di New England saja ada literatur yang cukup bagus. Di New England, orang-orang sangat erat dengan buku. Nah, karena (menurut van Doren) "book breed books", maka orang-orang New England pun melahirkan karya dari bidang masing-masing, "yang tentara menulis tentang perang, para eksekutif menceritakan administasi mereka, para misionaris menceritakan upaya mereka...". Dari lingkungan inilah muncul pencatat hidup sehari-hari yang tajam, penyair yang lumayan lebih baik, dan lain-lain. Secara umum, nuansa literatur New England saat itu Puritanis.

Kelak, dari Boston lahir seorang pemikir muda bernama Jonathan Edwards, yang merangkap sebagai ilmuan, metafisikus, mistikus, dan santo(?). Edwards ini seorang pemikir yang relijius dan mendasarkan segala pemikirannya pada Tuhan. Sampai-sampai, dia menjunjung tinggi pandangan "predestination", bahwa semua yang dibumi ini diatur dengan sangat cermat oleh Tuhan. Namun, Boston sudah berkembang, mulai sekular dan tak lagi tertarik pada gagasan semacam itu. Akhirnya, dia pun terpaksa masuk ke hutan lagi untuk menjadi misionaris di kalangan orang Indian.

Selanjutnya muncul tokoh lain bernama ... eng ing eng... Benjamin Franklin. Pemikir muda yang penuh gairah dan semangat ini berbanding 180 derajat dengan Edwards. Van Doren memberikan list sebutan untuk Franklin: printer, publisher, journalist, compiler of almanacs, maker of proverbs, man of affairs, inventor, scientist, and philanthropist. Tak hanya jago di kandang, Franklin juga terbilang jago saat berdinas di London (yang mana waktu itu Jakarta-nya Franklin :D, kan Franklin anak daerah, anak provinsi). Banyak sekali pepatah-pepatah karyanya yang masih bertahan sampai saat ini. Diantara karya-karya tulisnya, Autobiography-nya masih banyak dibaca orang hingga hari ini.

Yah...sementara begitu dulu deh. Selanjutnya kita ngomong soal kaitan literatur dengan revolusi Amerika.

Posted in Sastra | Send feedback »

On Borgesian Writing

August 19th, 2008

All right!!! Inilah saatnya. Terucap terima kasih kepada Toko Buku Bekas Dickson Str Used and Out of Print Bookstore, saya mendapatkan sebuah buku yang sangat asyik, BORGES ON WRITING.

Buku ini adalah semacam penjelas estetika Borges (eh, bacanya 'borhes' lho ya, ini sumbernya valid, :D) yang diambil dari seminar panel yang menampilkan Borges (si penulis), di Giovanni (penerjemah "resmi" karya-karya borges ke dalam bahasa inggris), Macshane, dan dipartisipasi-i mahasiswa Columbia University, Amrik.

Buku ini dibagi ke dalam tiga bagian, yaitu Prose, Poetry, dan Translation.

Pada bagian prose--sepertinya posting ini hanya akan membahas bagian prose saja--diskusi diawali dengan penggeberan karya yang paling Borges sukai,yakni "The End of the Duel". Diskusi berjalan dengan gaya "pemberian testimoni penulis atas tulisannya". Jadi, Di Giovanni membacakan karya yang tersebut (karena dia yakin Borges sudah agak lama tidak membaca karya itu dan dia perlu disegarkan). Setiap satu atau dua kalimat, ketika dirasa perlu, Borges menyela untuk memberikan penjelasan ini itu seputar hal-hal yang melatarbelakangi satu-dua kalimat tersebut.

Dari gaya semacam itulah, kita jadi tahu kalau:

1) Borges sangat perhatian sekali dengan hal-hal yang terkait dengan kelogisan ceritanya, bahkan yang sifatnya sangat renik, seperti misalnya apakah pantas tokonya diberi nama ini atau itu mengingat tokohnya adalah keturunan Brazil, atau keturunan Irlandia campur Uruguay, dst...

Kelogisan memang akan selalu mewarnai karya-karya Borges, meskipun...

2) Borges suka memberikan elemen keragu-raguan dalam karya-karyanya, dengan misalnya kalimat "yang saya ceritakan dengan cukup banyak keraguan, karena kelupaan dan ingatan membuat kita suka mengarang-ngarang" (kira-kira begitulah terjemahan super bebas dari saya :D). Dengan begini, pembaca dibikin semacam agak ragu-ragu. Dan Di Giovanni mengomentari ini sebagai salah satu trademarknya Borges (dan Borges mengamininya).

3) ternyata ternyata banyak dari cerita Borges itu berasal dari anekdot yang dia dengar dari sana sini. Tapi, untuk jadi sebuah cerita yang Borgesian, anekdot-anekdot tersebut harus dia simpan cukup lama di ingatannya. Kalau istilah kita mungkin mengalami proses "pengendapan". Borges juga suka mencerita-ceritakan anekdot itu ke teman-temannya (sampai mereka bosan).

4) Borges memanipulasi anekdot itu dengan memberikan detil di sana sini agak tampak seperti cerita yang benar-benar terjadi, seperti laporan pandangan mata (nah, kalo ini, sebenarnya kita bisa menemukan cikal bakalnya dalam buku "The Universal History of Infamy" (atau terjemahan Indonesianya yang digarap Arif B. Prasetyo berjudul "Sejarah Aib"). Sedikit banyak, kita mungkin akan menghubung-hubungkan dengan jurnalisme sastrawi, yang selain menyajikan informasi beritawi, juga memberikan "suasana" dengan memberikan informasi yang merangsang inderawi seperti cuaca, kebisingan, isi hati, dll. Di sini, kita tahu bahwa anekdot yang diceritakan temannya (Reyles) itu tidak terlalu panjang, tapi Borges menambah-nambahinya di sana-sini agar tampak lebih nyata, dan ceritawi.

5) Borges mengawali cerpen-cerpennya yang semacam ini dengan semacam percakapannya dengan teman yang memberikan cerita itu dengan harapan hal itu akan membuat ceritanya tampak lebih nyata. Tapi ya... kalau dipikir-pikir benar juga, daripada mengajak pembaca langsung terjun ke dalam kisah yang aga ganjil, yang mana berpotensi akan membuat pembaca menganggap cerita itu hanya karangan saja, cara yang dipakai Borges lumayan manjur untuk membuat pembaca secara tanpa sadar menganggap cerita itu benar-benar cerita yang dituturkan orang lain kepada si aku yang kita asosiasikan dengan Borges sendiri.

Selain kelimat poin yang secara langsung terkait dengan "The End of the Duel," kita juga akan mengetahui (atau lebih tepatnya, mendapatkan penegasan) bahwa:

5) Borges memang suka mengutip-ngutip dari sumber yang tidak jelas (karena maksudnya memang untuk mengarang). Ini akan kita temukan dalam cerpen "Tlon, Uqbar, dan Orbis Tersius", atau "Piere Menard...", dll. terutama yang dalam buku Ficcioness itu, oh....)

6. Borges, uniknya, berpandangan bahwa sastrawan itu pada dasarnya "harus" terlibat dengan lingkungan sosialnya, TAPI KARYANYA HARUS BENAR-BENAR MURNI. Di sini, dia mencontohkan bagaimana dirinya menjadi presiden Komunitas Penulis Argentina yang sangat anti rezim Peron. Dia sangat vokal. Tapi, dalam karya-karyanya dia benar-benar bisa berjarak (meskipun para penafsirnya seringkali menemukan bau-bau kritik sejarah dalam karya Borges). Saya mensinyalir ini berkaitan dengan keinginan Borges untuk bisa "meyuniversalkan" karyanya, membuatnya karyanya "bisa menembus waktu", "mengklasik". Well, semacam itulah...

7. Borges berpandangan bahwa (seperti juga banyak orang), bahwa cerpen lebih erat ke peristiwa, dan novel lebih erat ke karakter. Dalam cerpen, karakter boleh saja tidak digarap, asalkan yang menjadi fokus memang bukan karakter, dan karakternya sendiri tidak istimewa-istimewa sangat. Namun,untuk novel, karakter adalah yang utama, dan plot... biarkan dia muncul sendiri bersama karakter :D. Well.... agak berbeda sih dengan Si Pemimpi yang menganggap bahwa untuk menjadi ideal, sebuah novel harus juga kuat dalam hal plot, untuk tetap menarik minat pembaca.

Dan, akhirul resensi, saya pingin juga membocorkan bahwa:

8. Borges sangat tidak suka dengan ceritanya "The Streetcorner Man" (versi Indonesianya "Lelaki di Sudut Jalan") dalam The Universal History, karena cerita itu terlalu cerita, kurang tampak elemen logisnya--atau dalam bahasa Borges sendiri, cerita itu terlalu "stagey", seperti penampilan dramawan di atas panggung. Unik. Padahal itulah cerpen Borgesian pertama (yang terpisah dengan kisah autobiografi yang "ditambah-tambahi" dalam the Universal History itu...

Sementara begitu dulu. Semoga ada kesempatan untuk melanjutkan dengan bagian Poetry (yang sebenarnya saya sungkan garap, :D) dan Translation (yang, sumpah, sangat menarik).

Posted in Sastra | 6 feedbacks »

1 2 3 >>
  • Berbagi Mimpi

  • Search




  • Daptar Isi

    • Daisy Miller: Hmm... Ngepop apa Msikologis apa Ngrealis Saja apa Ngontemplatif?
    • Mulai Masuk Masa Penghasil Klasik
    • Apa Hubungannya Literatur Amerika dengan Revolusi dsb?
    • Awal Sastra Amerika
    • On Borgesian Writing
    • Joyce in Comics
    • Memahami Dominasi Sastra
    • Keabadian Manusia
    • Pembunuhan "Tuhan"
    • Pandangan dalam Menulis
    • Teringat Bintang Kejora si Penjual Hujan
    • Sejumlah Poin on Nabi Tanpa Wahyu
    • Menghudan Tanpa Wahyu
    • Dibuka, Berbagi Mimpi versi non blogspot
  • Categories

    • All
    • Bahasa
    • Fenomena
    • Pambuka
    • Sastra
    • Serbasuka
  • The requested Blog doesn't exist any more!
  • XML Feeds

    • RSS 2.0: Posts, Comments
    • Atom: Posts, Comments
    • _rss: Posts, Comments
    What is RSS?
powered by b2evolution

©2008 by wawan eko yulianto | Contact | Design by Michael | Recommended sites: Best Web Hosting and Domain Name Registration. Created with Website Builder Software | Credits: blog software | UK hosting | Francois